Kamis, 28 Januari 2010

Cara Makan

Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia
Ditulis dalam Sehat oleh irawansuryakusuma pada September 13, 2009

DokterSehat-Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang.. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.
Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.
Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal.. Ketika diajak “lomba lari” oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.
Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.
Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk” . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.
Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.
Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.
Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.
Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan “jelek” itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.
Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan “pengobatan” seperti itu.. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan “pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.
Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.
Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak.. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Nah….. gan pei!

Sapi
Sumber Jawapost.co.




Sapi Sapi Kerbau bule

Kerbau


Putri seorang milyarder - sebut saja namanya Paris... mendapat tugas mengarang di sekolah. Tema yang dipilih Ibu Guru adalah tentang orang miskin.

Dengan penuh semangat Paris mulai menulis:

"Ani adalah anak miskin. Ayahnya miskin. Ibunya miskin. Kakaknya miskin. Adiknya miskin. Pembantunya miskin. Supirnya miskin. Tukang kebunnya miskin. Kokinya miskin. Satpamnya miskin. Bodyguard-nya miskin..."


NB: gambar di peroleh dari sini
Tags: joke
5 comments share



Seorang anak (sebut saja Tono) pulang ke rumah dari sekolah. Sang ibu menyambut anaknya pulang dari sekolah dan bertanya keadaan di sekolah

Tono: "Tadi Pak Guru marah besar di kelas"
Ibu: "Apa kata Pak guru?"
Tono: "Kalian ini semua kerbau-kerbau bebal!"
Ibu: "Oh ya? Termasuk Tono juga?"
Tono: "Tidak bu. Kata Pak Guru -- Tono itu kerbau istimewa..."



Gambar diambil dari sini
Tags: joke

Senin, 25 Januari 2010

Keragaman Ketertiban

KETERTIBAN UMUM

Ketertiban lalu lintas di jalan umum sering terabaikan, semua orang punya kepentingan dengan jalan raya sejauh ini kita lihat mungkin anda juga ada beberapa yang sependapat atau tidak tergantung sebagai apa dan dimana posisi kita bicara sebagai pejalan kaki, pengendara sepeda motor, sebagai pengendara mobil.

Kondisi ini sering terjadi di jalan umum di kota Samarinda dimana saat ini hampir semua jalan semakin hari semakin padat dan sejauh mana penerapan undang undang baru bisa ditaati oleh pengendara baik roda dua maupun empat serta sejauh mana pula pengawasan dan pengendalian (control) pihak berwenang dalam pelaksanaanya, coba kita inpentaris

Sepeda motor
1. Lampu besar sepeda motor ada yang dinyalakan ada yang tidak
2. Beberapa traffic light (Lampu Merah) sudah terpasang aturan bagi yang belok kiri langsung atau ikut isyarat kenyataan masih ada yang tidak peduli
3. Penggunaan alat keselamatan diri ada yang menggunakan helm standard atau hanya pengendara pembawa sedang yang dibonceng masih ada yang tidak menggunakan bahkan ada yang tidak memakai keduanya
4. Membaca dan menjawab SMS dan telepon sambil sambil mengendarai sepeda motor, diperingati biasa tidak terima
5. Mengobrol kecepatan rendah berjejer mengahalangi pengguna jalan lain ada juga terkadang dengan seragam yang sama, berarti mereka satu kesatuan sebelum keluar jalan umum, satu sekolah satu instansi.
6. Berbelok tanpa isyarat lampu rating
7. Keluar dari gang atau jalan kecil tanpa memperdulikan kendaraan yang melintas, bahkan seperti jalan kosong
8. Memotong jalan tanpa perhitungan kecepatan pada saat belok
9. Menyerobot traffic light
10. Ketika terjadi kecelakaan dijalan umum apakah masih kendaraan yang lebih besar dianggap selalu bersalah
11. Lampu sepeda motor malam tidak menyala
12. Lampu rem tidak menyala
13. Warna lampu malam dan lampu rem tidak standar diganti dengan warna terang sehingga menyilaukan pandangan pengendara dibelakangnya seperti halnya lampu sorot
14. Indicator lampu rem dengan Accessories lampu kuning menghadap ke atas menyilaukan
15. Knalpot tidak standar kalau di gang suaranya keras mengganggu
16. Parkir dijalan umum tidak tertib terkadang masih di area jalan
17. Antri di traffic light melebihi garis pembatas, kendaraan dari berlawanan terhambat
18. Ada kebiasaan menyalakan klakson saat lampu akan atau baru beberapa detik hijau, apa maksudnya?
19. Memotong jalur di lampu merah, tujuan kekanan posisi ada dikiri dan langsung meluncur, posisi lampu rating tidak terlihat oleh kendaraan roda empat
20. Pada jam jam tertentu suka ada yang mengajak anak kecil jalan jalan dengan sepede motor tangan satu sambil memegang anak biasanya kecepatan pelan ini membuat kagok
21. Mengendarai sepeda motor seperti melamun kelihatan dari belakang tidak peduli keadaan dan tidak kontrol jarak didepanya bahkan tidak peduli ada di belakang
22. Kaca spion tidak mengarah dengan benar ke object di belakang tetapi seperti keatas atau kebawah, sehingga object dibelakang tidak pada titik fokusnya
23. Kalau keadaan macet atau antri tidak memperhatikan garis pembatas langsung merangsek ke depan bila ada celah langsung masuk
24. Kalau berbelok cenderung mengambil sudut yang lebih kecil, misal belok kanan pada garis pembatas cenderung lebih ke kanan lagi
25. Ketika masuk gang tidak menyalakan rating sehinggan kendaraan lain yang mau keluar gang tidak tahu arahnya, padahal menuju gang, sedangkan kendaraan di gang masih menunggu
26. Lampu malam pada posisi “dim” ke atas
27. Bila ada kecelakaan di jalan berhenti untuk melihat disekitar kejadian di jalan umum dan berhenti mengahalangi arus lalin
28. Bila ada kebakaran beramai ramai nonton dan sepeda motor diparkir sembarangan sehingga jalan masuk mobil petugas pemadam terhalang
29. Pada waktu hujan jas menghalagi indicator lampu rating dan spion
30. Ada terkadang ibu ibu yang menggunakan kerudung panjang menutupi lampu belakang
31. Ketika ada mobil sedang maneuver mundur maju sepeda motor minta jalan masuk walaupun separuh jalan sudah dipakai